Mengatasi ketakutan anak

Berikut 9 jenis rasa takut yang kerap dialami batita dan tips mengatasinya

1. TAKUT BERPISAH (SEPARATION ANXIETY)
Anak cemas harus berpisah dengan orang terdekatnya. Terutama ibunya, yang
selama 3 tahun pertama menjadi figur paling dekat. Figur ibu, tak selalu harus
berarti ibu kandung, melainkan pengasuh, kakek-nenek, ayah, atau siapa saja
yang memang dekat dengan anak.

Kelekatan anak dengan sosok ibu yang semula terasa amat kental, biasanya akan
berkurang di tahun-tahun berikutnya. Bahkan di usia 2 tahunan, kala sudah
bereksplorasi, anak akan melepaskan diri dari keterikatan dengan ibunya. Justru
akan jadi masalah bila si ibu kelewat melindungi/overprotektif atau hobi
mengatur segala hal, hingga tak bisa mempercayakan anaknya pada orang lain.

Perlakuan semacam itu justru akan membuat kelekatan ibu-anak terus bertahan dan
akhirnya menimbulkan kelekatan patologis sampai si anak besar. Akibatnya, anak
tak mau sekolah, gampang nangis, dan sulit dibujuk saat ditinggal ibunya.Bahkan
si ibu beranjak ke dapur atau ke kamar mandi pun, diikuti si anak terus. Repot,
kan? Belum lagi ia jadi susah makan dan sulit tidur jika bukan dengan ibunya.
Cara Mengatasi:
Jelaskan pada si kecil, mengapa ibu harus pergi/bekerja. Begitu juga penjelasan
tentang waktu meski anak usia ini belum sepenuhnya mengerti alias belum tahu
persis kapan pagi, siang, sore, dan malam serta pengertian mengenai berapa lama
masing-masing tenggang waktu tersebut. Akan sangat memudahkan bila orang tua
menggunakan bahasa yang mudah dimengerti. Semisal, "Nanti, waktu kamu makan
sore, Ibu sudah pulang." Jika tak bisa pulang sesuai waktu yang dijanjikan,
beri tahu anak lewat telepon. Sebab, anak akan terus menunggu dan ini justru
bisa menambah rasa takut anak. Ia akan terus cemas bertanya-tanya, kenapa sang
ibu belum datang

2. TAKUT MASUK "SEKOLAH"
Bukan soal mudah melepas anak usia batita masuk playgroup. Sebab, ia harus
beradaptasi dengan lingkungan barunya. Padahal, tak semua anak bisa gampang
beradaptasi. Dari pihak orang tua, tidak sedikit pula yang justru tak rela
melepas anaknya "sekolah" karena khawatir anaknya terjatuh kala bermain atau
didorong temannya.
Cara Mengatasi:
Orang tua tetap perlu mengantar anak ke "sekolah" karena ini menyangkut soal
pembiasaan. Kalaupun di hari-hari berikutnya ada sekolah-sekolah yang bersikap
tegas hanya membolehkan orang tua menunggu di luar, sampaikan informasi ini
pada anak. Guru pun harus bisa menarik perhatian anak agar tidak terfokus pada
ketiadaan pendampingan orang tuanya dengan bermain. Di saat asyik bermain
dengan teman-temannya niscaya ia akan lupa.

3. TAKUT PADA ORANG ASING
Di usia-usia awal, anak memang mau digendong/dekat dengan siapa saja. Namun di
usia 8-9 bulan biasanya mulai muncul ketakutan atau sikap menjaga jarak pada
orang yang belum begitu dikenalnya. Ini normal karena anak sudah
mengerti/mengenali orang. Ia mulai sadar, mana orang tuanya dan mana orang lain
yang jarang dilihatnya.
Cara Mengatasi:
Di usia batita seharusnya rasa takut pada orang asing sudah mulai berangsur
hilang karena, toh, ia sudah bereksplorasi. Semestinya anak sudah memperoleh
cukup pengetahuan untuk menyadari bahwa tak semua orang asing/yang belum begitu
dikenalnya merupakan ancaman baginya.

Biasanya, justru karena orang tua kerap menakut-nakuti, sehingga anak bersikap
seperti itu. "Awas, jangan deket-deket sama orang yang belum kamu kenal. Nanti
diculik, lo!" Memang boleh-boleh saja orang tua menasehati anak untuk
berhati-hati/bersikap waspada pada orang asing, tapi sewajarnya saja dan bukan
dengan cara menakut-nakutinya.

4. TAKUT PADA DOKTER
Mungkin pernah mengalami hal tak mengenakkan seperti disuntik, anak jadi takut
pada sosok tertentu. Belum lagi kalau orang tua rajin "mengancam" setiap kali
anak dianggap nakal. "Nanti disuntik Bu Dokter, lo, kalau makannya enggak
habis!" atau "Nanti Mama bilangin Pak Satpam, ya!
Cara Mengatasi:
Izinkan anak membawa benda atau mainan kesayangannya saat datang ke dokter
sehingga ia merasa aman dan nyaman. Di rumah, orang tua bisa membantunya dengan
menyediakan mainan berupa perangkat dokter-dokteran. Biarkan anak menjalani
peran dokter dengan boneka sebagai pasiennya. Secara berkala ajak anak ke
dokter gigi untuk menjaga kesehatan giginya. Tak ada salahnya juga mengajak dia
saat orang tua atau kakak/adiknya berobat gigi. Dengan begitu anak memperoleh
infomasi bagaimana dan ke mana ia harus pergi untuk menjaga kesehatan giginya..
Lambat laun ketakutannya pada sosok dokter justru berganti menjadi kekaguman.

5. TAKUT HANTU
"Hi, di situ ada hantunya. Ayo, jangan main di situ!" Gara-gara sering diancam
dan ditakuti seperti itu, batita yang sebetulnya belum mengerti sama sekali
tentang hantu, jadi tahu dan takut. Bisa juga karena ia menonton film horor di
televisi.
Cara Mengatasi:
Jauhkan anak dari tontonan tentang hantu. Orang tua pun seyogyanya jangan
pernah menakut-nakuti anak hanya demi kepentingannya. Bisa pula dengan
membelikan buku-buku cerita atau tontonan anak mengenai karakter hantu atau
penyihir yang baik hati.

6. TAKUT GELAP
Biasanya juga gara-gara orang tua. "Mama takut, ah. Lihat, deh, gelap, kan?"
Takut pada gelap bisa juga karena anak pernah dihukum dengan dikurung di ruang
gelap. Bila pengalaman pahit itu begitu membekas, bukan tidak mungkin rasa
takutnya akan menetap sampai usia dewasa. Semisal keluar keringat dingin atau
malah jadi sesak napas setiap kali berada di ruang gelap atau menjerit-jerit
kala listrik mendadak padam.
Cara Mengatasi:
Saat tidur malam, jangan biarkan kamarnya dalam keadaan gelap gulita. Paling
tidak, biarkan lampu tidur yang redup tetap menyala. Cara lain, biarkan boneka
atau benda kesayangannya tetap menemaninya, seolah bertindak sebagai penjaganya
hingga anak tak perlu takut.

7. TAKUT BERENANG
Sangat jarang anak usia batita takut air. Kecuali kalau dia pernah mengalami
hal tak mengenakkan semisal tersedak atau malah nyaris tenggelam saat berenang
hingga hidungnya banyak kemasukan air.
Cara Mengatasi:
Lakukan pembiasaan secara bertahap. Semisal, awalnya biarkan anak sekadar
merendam kakinya atau menciprat-cipratkan air di kolam mainan sambil tetap
mengenakan pakaian renang. Bisa juga dengan memasukkan anak ke klub renang yang
ditangani ahlinya. Atau dengan sering mengajaknya berenang bersama dengan
saudara/teman-teman seusianya. Tentu saja sambil terus didampingi dan dibangun
keyakinan dirinya bahwa berenang sungguh menyenangkan, hingga tak perlu takut.
Kalaupun anak tetap takut, jangan pernah memaksa apalagi memarahi atau
melecehkan rasa takutnya. Semisal, "Payah, ah! Berenang, kok, takut!"

8. TAKUT SERANGGA
Tak sedikit anak yang takut pada jangkrik, kecoa atau serangga terbang lainnya.
Sebetulnya ini wajar, hingga orang tua jangan tambah menakut-nakutinya, "Awas,
nanti ada kecoa, lo." Hendaknya justru bisa memahami karena anak usia ini
mungkin saja menemukan banyak hal yang dapat membuatnya takut.
Cara Mengatasi:
Boleh saja orang tua memberi pengenalan tentang alam binatang pada anak. Tak
perlu kelewat detail seperti halnya profesor memberi kuliah. Tugas orang tua
sebatas memahami ketakutan anak sekaligus membantunya merasa aman. Boleh saja
katakan, "Ayah tahu kamu takut jangkrik." Cukup segitu dan jangan paksa anak
berada terus-menerus dalam pembicaraan mengenai rasa takutnya. Jangan pula
memaksa anak bersikap sok berani menghadapi ketakutannya. "Belum saatnya
mencobakan anak melihat atau malah menyentuhkan serangga yang ditakutinya. Ini
hanya akan membuat anak semakin takut." Bila dipaksakan terus, anak malah bisa
fobia pada serangga. Biarkan anak tertarik dengan sendirinya dan biasanya ini
terjadi setelah anak berusia 2 tahunan. Jika anak memang takut kala ada
serangga yang terbang di dekatnya, bantulah untuk mengusirnya bersama

9. TAKUT ANJING
Wajar anak batita takut anjing mengingat penampilan binatang ini memang
terkesan galak dengan gonggongan dan tampang yang garang. Belum lagi
kebiasaannya suka melompat, menjilat atau malah mengejar. Tugas orang tualah
untuk memahami sekaligus membantu anak mengatasi ketakutannya.
Cara Mengatasi:
Tak harus memaksa anak memelihara anjing atau mendorong anak menghadapi rasa
takutnya dengan terus-menerus memberi 'ceramah', semisal "Ngapain, sih, takut
sama anjing. Anjingnya, kan, baik." Menihilkan ketakutan anak justru akan
membuat anak semakin takut dan bukan tidak mungkin akhirnya malah berkembang
jadi fobia yang sulit diatasi.

Bila anak memang takut dan ketika berjalan bertemu anjing, pegangi tangannya
untuk meyakinkannya ia bisa aman melewati binatang yang ditakutinya bersama
orang tuanya. Jangan lupa untuk tetap menjaga jarak aman dari temperamen
binatang yang relatif sulit diduga. Bisa juga dengan menunjukkan keakraban
antara anjing sebagai hewan peliharaan dengan majikannya lewat cerita/dongeng.
Atau kenalkan pada anjing tetangga dan tak ada salahnya meminta si pemilik
memperlihatkan bagaimana menjalin keakraban dengan anjingnya tanpa harus merasa
takut.   

Leave a Reply